Dalam dunia pengelasan, kita akan mengenal begitu banyak faktor pendukung dari proses pengelasan itu sendiri. Kita mungkin akan mengenal jenis las biasa yang kita lihat di kebanyakan bengkel las yang tersebar di berbagai tempat dan menganggap bahwa segala peralatan dan perlengkapan yang menunjang segala proses pengelasan ini adalah sama saja. Namun ternyata banyak sekali perlengkapan dari las itu sendiri yang bermacam-macam jenisnya. Salah satu hal yang cukup banyak tidak disadari oleh banyak orang adalah ternyata jenis elektroda sendiri dapat dibuat dari begitu banyak jenis logam
Weldability dapat didefinisikan sebagai kemampuan bahan, logam untuk dapat di las tanpa mengalami penurunan sidar yang dimilikinya secara berlebihan. Logam yang di las dapat mengalami penurunan mutu akibat terjadinya penggetasan, cacat, dan retakan.
Mutu hasil lasan akan terkait langsung dengan sifat mampu las dari bahannya yang dilihat dari sensitifitas sambungan las terhadap kemungkinan terjadinya penggetasan, cacat, atau retak. Penggetasam, cacat atau retak berdampak langsung terhadap penurunan sifat mekanik dari logam yang di las.

Setiap logam bereaksi terhadap panas dengan caranya sendiri. Bergantung pada fakta bagaimana logam tersebut memuai dan melunak saat dipanaskan, logam tersebut dapat digunakan untuk berbagai aplikasi. Bahkan proses pengelasan seperti SMAW, GTAW, GMAW, dan FCAW menentukan pilihan bahan pengelasan. Karena jenis bahan untuk pengelasan yang digunakan dapat membuat atau merusak keseluruhan proses, maka penting untuk memiliki pengetahuan lengkap tentang bahan-bahan tersebut. Beberapa jenis logam yang paling umum digunakan untuk pengelasan adalah sebagai berikut :
- Baja Karbon
- Baja Tahan Karat
- Alumunium
- Tembaga
- Titanium
A. BAJA KARBON DAN BAJA TAHAN KARAT
Baja adalah logam paduan dengan besi sebagai unsur dasar dan karbon sebagai unsur paduan utamanya. Kandungan karbon dalam baja berkisar antara 0,2% – 2,1% berat sesuai grade-nya. Fungsi karbon dalam baja adalah sebagai unsur pengeras. Unsur paduan lain yang biasa ditambahkan selain karbon adalah mangan (manganese), krom (chromium), vanadium, dan nikel. Dengan memvariasikan kandungan karbon dan unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa didapatkan. Penambahan kandungan karbon pada baja dapat meningkatkan kekerasan (hardness) dan kekuatan tariknya (tensile strength), namun di sisi lain membuatnya menjadi getas (brittle) serta menurunkan keuletannya (ductility).
Pengaruh utama dari kandungan karbon dalam baja adalah pada kekuatan, kekerasan, dan sifat mudah dibentuk. Kandungan karbon yang besar dalam baja mengakibatkan meningkatnya kekerasan tetapi baja tersebut akan rapuh dan tidak mudah dibentuk. Baja dapat dibentuk menjadi berbagai macam bentuk sesuai dengan keperluan, antara lain ialah :
- Baja Karbon (Carbon Steel)
Baja karbon disebut juga plain carbon steel, mengandung terutama unsur karbon dan sedikit silicon, belerang dan pospor. Berdasarkan kandungan karbonnya, baja karbon dibagi menjadi- Baja dengan kadar karbon rendah (< 0,2% C)
Baja dengan kadar karbon rendah ( < 0,2 % C) Baja ini dengan komposisi karbon kurang dari 2%. Fasa dan struktur mikronya adalah ferrit dan perlit. Baja ini tidak bisa dikeraskan dengan cara perlakuan panas (martensit) hanya bisa dengan 8 pengerjaan dingin. Sifat mekaniknya lunak, lemah dan memiliki keuletan dan ketangguhan yang baik. Serta mampu mesin (machinability) dan mampu las nya (weldability) baik cocok untuk bahan bangunan konstruksi gedung, jembatan, rantai, body mobil. - Baja dengan kadar karbon sedang (0,1% – 0,5% C)
Baja karbon sedang memiliki komposisi karbon antara 0,2% – 0,5% C (berat). Dapat dikeraskan dengan perlakuan panas dengan cara memanaskan hingga fasa austenit dan setelah ditahan beberapa saat didinginkan dengan cepat ke dalam air atau sering disebut quenching untuk memperoleh fasa ang keras yaitu martensit. Baja ini terdiri dari baja karbon sedang biasa (plain) dan baja mampu keras. Kandungan karbon yang relatif tinggi itu dapat meningkatkan kekerasannya. Namun tidak cocok untuk di las, dengan kata lain mampu las nya rendah. Dengan penambahan unsur lain seperti Cr, Ni, dan Mo lebih meningkatkan mampu kerasnya. Baja ini lebih kuat dari baja karbon rendah dan cocok untuk komponen mesin, roda kereta api, roda gigi (gear), poros engkol (crankshaft) serta komponen struktur yang memerlukan kekuatan tinggi, ketahanan aus, dan tangguh. - Baja dengan kadar karbon tinggi (> 0,5% C)
Baja karbon tinggi memiliki komposisi antara 0,6% – 1,4% C (berat). Kekerasan dan kekuatannya sangat tinggi, namun keuletannya kurang. baja ini cocok untuk baja perkakas, cetakan (dies), pegas, kawat kekuatan tinggi dan alat potong yang dapat dikeraskan dan ditemper dengan baik. Baja ini terdiri dari baja karbon tinggi biasa dan baja perkakas. Khusus untuk baja perkakas biasanya mengandung Cr, V, W, dan Mo. Dalam pemaduannya unsur-unsur tersebut bersenyawa dengan karbon menjadi senyawa yang sangat keras sehingga ketahanan aus sangat baik.
Kadar karbon yang terdapat di dalam baja akan mempengaruhi kuat tarik, kekerasan dan keuletan baja. Semakin tinggi kadar karbonnya, maka kuat tarik dan kekerasan baja semakin meningkat 9 tetapi keuletannya cenderung turun. Penggunaan baja di bidang teknik sipil pada umumnya berupa baja konstruksi atau baja profil, baja tulangan untuk beton dengan kadar karbon 0,10% – 0,50%. Selain itu baja karbon juga digunakan untuk baja atau kawat pra tekan dengan kadar karbon sampai dengan 0,90 %. Pada bidang teknik sipil sifat yang paling penting adalah kuat tarik dari baja itu sendiri.
- Baja dengan kadar karbon rendah (< 0,2% C)
Tabel 1.0
| Jenis Material | Kandungan | Pengelasan Berkas Elektron | Pengelasan Laser Gelombang Kontinu | Pengelasan Laser Berdenyut |
| Baja Karbon Tinggi | 0,60% – 1,40% C | √ | √ | × |
| Baja Karbon Sedang | 0,10% – 0,50% C | √ | √ | × |
| Baja Karbon Rendah | 0,05% – 0,20% C | √ | √ | √ |
- Baja Tahan Karat (Stainless Steel)
Stainless Steel atau baja tahan karat adalah material baja yang mengandung senyawa Besi (ferum) dan minimal 10,5 % unsur kromium. Daya tahan anti karatnya dihasilkan dari terdapatnya lapisan oksida kromium yang stabil. Lapisan oksida kromium inilah yang menghalangi proses oksidasi sehingga logam ini tahan karat.Material ini bukan konduktor panas dan listrik yang baik, namun bisa ditarik magnet karena didalamnya mengandung besi. Meskipun terbuat dari baja yang kuat dan keras, namun material ini termasuk mudah dibentuk. Tanpa perlu adanya finishing, lapisan kromium mampu membuat material ini tampak begitu menarik. Meskipun baja tahan karat harus mengandung setidaknya 10,5% kromium, komponen dan rasio yang tepat akan bervariasi berdasarkan pada mutu yang diminta dan tujuan penggunaan baja.Komposisi yang tepat dari suatu paduan diukur dan dinilai secara ketat selama proses paduan untuk memastikan baja menunjukan kualitas yang dibutuhkan. Baja ini sangat tahan korosi. Karena ketahanannya yang sangat baik terhadap korosi, kekuatan tinggi dan tampilan yang menarik, baja ini memiliki berbagai macam kegunaan baik di pasar industri maupun konsumen. Ada banyak jenis baja tahan karat, beberapa diantaranya dapat di las, yang lainnya sangat sulit di las.
Tabel 2.0
| Jenis Baja Tahan Karat | Dapat Di Las /
Tidak Dapat Di Las |
Pengelasan Berkas Elektron | Pengelasan Laser Gelombang Kontinu | Pengelasan Laser Berdenyut |
| 201 | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 304 | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 310S | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 304L | Dapat Di Las | √ | √ | √ |
| 316 | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 316L | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 410 | Dapat Di Las | √ | √ | √ |
| 420 | Dapat Di Las | √ | √ | √ |
| 430 | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 440A | Dapat Di Las | √ | √ | × |
B. ALUMUNIUM
Aluminium adalah jenis lain dari bahan batang las yang populer . Lebih ringan dari baja, bahan ini tidak mudah korosif dibandingkan dengan logam lainnya. Oleh karena itu, bahan ini dianggap sebagai logam yang tahan lama. Bahan ini juga memiliki konduktivitas listrik yang baik. Namun, beberapa jenis aluminium mungkin memerlukan logam pengisi untuk membantu bahan-bahan menyatu.
Alumunium sangat ringan, sangat kuat, sangat fleksibel, dan tahan korosi, karena permukaanya selalu ditutupi lapisan oksida yang sangat tipis namun sangat kuat. Aluminium merupakan konduktor listrik dan panas yang baik dan membentuk paduan dengan hamper semua logam lainnya. Aluminium biasanya dapat di las, tetapi porositas dapat menjadi masalah, begitu pula dengan keretakan.
Tabel 3.0
| Jenis Alumunium | Dapat Di Las /
Tidak Dapat Di Las |
Pengelasan Berkas Elektron | Pengelasan Laser Gelombang Kontinu | Pengelasan Laser Berdenyut |
| 6061 – 4047 | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 2219 – 2219 | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 1100 – 2219 | Dapat Di Las | √ | √ | × |
| 6061 – 6061 | Dapat Di Las
(Hanya dengan pengisi) |
√ | √ | × |
| Seri 5000 | Las Marginal | √ | √ | × |
C. TEMBAGA
Di antara jenis logam elektroda las , tembaga adalah pesaing kuat lainnya. Karakteristiknya meliputi konduktivitas listrik dan konduktivitas panas yang baik, ketahanan terhadap keausan, dan ketahanan terhadap korosi.
Tembaga adalah logam yang lunak, mudah ditempa dan lentur dengan konduktivitas termal dan listrik yang sangat tinggi. Penampilannya sangat menarik. Hasil las nya bagus, tetapi porositas dan keretakannya bisa menjadi masalah.
Tabel 4.0
| Jenis Material | Suhu | Pengelasan Berkas Elektron | Pengelasan Laser Gelombang Kontinu | Pengelasan Laser Berdenyut |
| Tembaga | 1983°F / 1084°C | √ | √ | × |
D. TITANIUM
Titanium memiliki ketahanan terhadap korosi yang tinggi dan rasio kekuatan terhadap kepadatan tertinggi dibandingkan logam apa pun. Bahan ini dapat dicampur dengan logam lain seperti besi, aluminium, vanadium, dan molibdenum untuk menghasilkan bahan yang kuat dan ringan untuk banyak aplikasi.
Karakteristik material dan kemampuan las titanium dan paduan titanium dan uji kemampuan las dilakukan untuk cacat las titanium dan paduan titanium, yang rentan terhadap oksidasi, keretakan, dan porositas. Melalui eksplorasi terus menerus dari spesifikasi proses pengelasan titanium dan paduan titanium, serta analisis masalah yang masuk akal dalam proses pengujian, karakteristik dan esensi operasi dariproses pengelasan titanium dan paduan titanium dapat diringkas.
Klasifikasi dan karakteristik titanium dan titanium
Ada tiga jenis titanium murni industri, TA1, TA2, dan TA3. Perbedaannya terletak pada kandungan pengotor yang mengandung hidrogen, oksigen, dan nitrogen. Kotoran ini memperkuat titanium murni industri, tetapi plastisitasnya berkurang secara signifikan. Meskipun titanium murni industri tidak memiliki kekuatan tinggi, ia memiliki plastisitas dan ketangguhan yang sangat baik, terutama ketangguhan impak suhu rendah yang baik; itu juga memiliki ketahanan korosi yang baik. Oleh karena itu, bahan ini banyak digunakan di industri kimia, industri perminyakan, dll., Dan nyatanya, bahan ini banyak digunakan pada kondisi kerja di bawah 350 derajat.
Tabel 5.0
| Jenis
Titanium |
Dapat Di Las /
Tidak Dapat Di Las |
Pengelasan Berkas Elektron | Pengelasan Laser Gelombang Kontinu | Pengelasan Laser Berdenyut |
| Grade 2 | Dapat Di Las | √ | √ | √ |
| Grade 2 | Dapat Di Las | √ | √ | √ |
| Grade 2 | Dapat Di Las | √ | √ | × |
E. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIFAT MAMPU LAS PADA MATERIAL
Kemampuan untuk di las ditentukan oleh beberapa factor, diantaranya:
- Welding Metallurgy (Metalurgi Las)
Welding metallurgy adalah perubahan yang terjadi dalam suatu logam yang mengalami berbagai macam efek mekanis dan panas dalam suatu proses pengelasan. Welding metallurgy tergantung dari susunan atom dan bagaimana suatu sususnan atom tersebut dipengaruhi oleh gaya dan panas. Jenis susunan atom logam menyebabkan perbedaan sifat mekaniknya. Dengan demikian kita dapat melihan hubungan perlakuan melaturgi terhada logam yaitu pemanasan awal, pemanansan akhir, pelepasan tegangan, dll, dengan kemampuan mekanis yang diakibatkannya.
- Welding Chemistry (Kimia Pengelasan)
Welding chemistry merupakan hubungan secara kimiawi diantara logam induk, logam pengisi, dan bahan kimia lain yang ada pada proses pengelasan. Kemampuan logam induk dan logam pengisi untuk berfungsi tanpa menyebabkan suatu efek kimia yang buruk merupakan hal yang penting dalam hubungannya dengan weld ability.
- Joint Surface (Kondisi Permukaan Sambungan) & Joint Geometry (Bentuk Sambungan)
Kondisi permukaan dan bentuk sambungan merupakan factor akhir yang mempengaruhi kemampuan untuk di las. Kondisi permukaan sambungan termasuk efek dari kekasaran dan kebersihan permukaan sambungan. Bentuk atau geometri dari sambungan juga mempengaruhi kemampuan di las. Jumlah tegangan juga mempengaruhi kemampuan di las.
DAFTAR PUSTAKA
https://ejournal.undip.ac.id/index.php/kapal/article/download/2638/2359
https://translate.google.com/translate?u=https://en.wikipedia.org/wiki/Weldability&hl=id&sl=en&tl=id&client=sge&prev=search#:~:text=Kemampuan%20las%20%2C%20juga%20dikenal%20sebagai,mendefinisikannya%20dengan%20cara%20yang%20sama.
https://www.sciencedirect.com/topics/materials-science/weldability
https://www.twi-global.com/technical-knowledge/faqs/faq-how-can-i-assess-the-weldability-of-a-material
https://www.staffordmfg.com/blog/weldability-of-products-is-determined-by-materials-used/
https://www.scribd.com/document/363618913/Weldability-Dan-HardenAbility#
https://id.shew-esteelpipe.com/info/welding-of-titanium-and-titanium-alloys-and-se-82718410.html
https://ebindustries.com/weldable-materials/
Hai sobat kompetensi… Artikel edisi ini, kita masih membahas mengenai Ahli K3 Umum. Sobat kompetensi masih inget kan artikel sebelumnya yaitu pembahasan Ahli K3 Umum Kementerian Ketenagakerjaan, dan untuk artikel edisi ini kita membahas Ahli K3 Umum Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Badan Nasional Sertifikasi Profesi disingkat (BNSP) adalah sebuah lembaga independen yang dibentuk pemerintah untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Badan ini bekerja untuk menjamin mutu kompetensi dan pengakuan tenaga kerja pada seluruh sektor bidang profesi di Indonesia melalui proses sertifikasi kompetensi kerja bagi tenaga kerja, baik yang berasal dari lulusan pelatihan kerja maupun dari pengalaman kerja. BNSP adalah lembaga independen yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden, memiliki kewenangan sebagai otorisasi sertifikasi personil. Tugas BNSP adalah untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi profesi bagi tenaga kerja di Indonesia.
Adapun penjelasan dari Sertifikat Ahli K3 Umum BNSP adalah sebagai berikut :
1. Kelembagaan Sertifikasi
Diberikan oleh BNSP berdasarkan penilaian atas kompetensi oleh suatu badan penilai atau asesor yang ditunjuk khusus.
2. Dasar Hukum
Mengacu kepada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi nomor KEP.42/MEN/III/2008 Tahun 2008 tentang penerapan SKKNI sektor ketenagakerjaan bidang K3. Sertifikat Ahli K3 Umum BNSP juga diakui oleh Departemen Tenaga Kerja (Depnaker), karena Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) K3 telah didukung oleh surat resmi dari Direktur Jenderal Pembinaan dan Pengawasan Ketenagakerjaan No. B-710 pada tanggal 31 Desember 2008.
3. Persyaratan
Persyaratan untuk menjadi Ahli K3 BNSP, dibagi berdasarkan tingkatan (3-tingkat), pendidikan dan pengalaman serta persyaratan administrasi, diantaranya :
3.1. Tingkat Muda
- Sarjana K3 (S1) pengalaman kerja 6 bulan di bidang K3
- S1-Teknik (non K3) pengalaman kerja 1 tahun di bidang K3
- S1-Non Teknik + non K3 pengalaman kerja 1 tahun di bidang K3
- D3 pengalaman kerja 2 tahun dibidang K3
3.2. Tingkat Madya
- Pendidikan sarjana K3 (S1) pengalaman kerja 2 tahun di bidang K3
- S1-Teknik (non-K3) pengalaman kerja 5 tahun di bidang K3
- S1-Non Teknik + non K3 pengalaman kerja 7 tahun di bidang K3
- D3 pengalaman kerja 8 tahun di bidang K3
3.3. Tingkat Utama
- Sarjana K3 (S1) pengalaman kerja 5 tahun di bidang K3
- S1-teknik (non K3) pengalaman kerja 8 tahun di bidang K3
- S1-Non Teknik + non K3 pengalaman kerja 10 tahun di bidang K3
Untuk persyaratan administrasi Ahli K3 BNSP membutuhkan :
- Fotokopi ijazah terakhir
- Fotokopi KTP / Paspor / Kitas
- Pas foto ukuran 3×4 sebanyak 2 lembar
- Surat rekomendasi dari pimpinan / atasan langsung / rekanan kerja ( bila ada )
4. Fungsi dan Posisi
Hanya melekat pada individu, yang merupakan pengakuan atas kompetensi seorang individu.
5. Kompetensi yang dimiliki
Ahli K3 BNSP memiliki 7 ( tujuh ) kompetensi kunci sesuai dengan tingkatannya, yaitu :
- Mengumpulkan, menganalisis dan meng-organisasi informasi
- Meng-komunikasikan ide-ide dan informasi
- Merencanakan dan meng-organisasikan kegiatan
- Bekerjasama dengan orang lain dan kelompok
- Menggunakan gagasan secara sistematis dan teknis
- Memecahkan masalah
- Menggunakan teknologi
- Penjelasan secara teknis dan detail dapat dilihat pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Kep 42/Men/III/2008
Perusahaan tidak bisa begitu saja memilih pegawai untuk menjadi Ahli K3 Umum. Pegawai yang dipilih wajib memiliki Sertifikat Ahli K3 Umum dan bersedia menjalankan tugasnya dengan baik. Siapa saja yang bisa mengikuti Pelatihan Sertifikasi Ahli K3 Umum :
- Pelajar dan mahasiswa dengan pendidikan minimal SMK dan D3.
- Calon karyawan atau karyawati.
- Pekerja di setiap level pada suatu perusahaan.
- Seorang profesional di bidangnya.
6. Dokumen yang diterima
Mendapatkan selembar sertifikat kompetensi yang berisikan telah kompeten dalam unit kompetensi tertentu bidang K3.
7. Masa Pelatihan
Berlangsung selama 4-hari, terdiri atas 3-hari pendidikan dan latihan ( diklat ), dan 1-hari uji kompetensi.
8. Masa Berlaku dan Perpanjangan
Masa Berlaku Ahli K3 Umum BNSP adalah 3-tahun, dimana harus melakukan uji kompetensi kembali. Perbedaan ini diklarenakan oleh fungsi dan posisi dari masing-masing sertifikat itu sendiri.
Penerapan dengan baik akan regulasi keselamatan dan kesehatan kerja bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab semua elemen yang terlibat didalamnya seperti pihak perusahaan atau wirausaha, pekerja, dan masyarakat secara keseluruhan. Ahli K3 Umum di perusahaan diharapkan mampu mengawasi pelaksanaan peraturan perundangan K3 dan dapat memberikan peran optimal dalam organisasi perusahaan guna pengendalian resiko kecelakaan kerja.
Bagaimana tugas seorang Ahli K3 Umum bagi perusahaan ?
- Ahli K3 Umum yang dapat mengidentifikasi, evaluasi, pengendalian resiko, dalam pelaksanaan K3.
- Mampu melaksanakan K3 di tempat kerja dan mampu menjelaskan tehnik pencegahan dan penanggulangan kecelakaan kerja.
- Dapat mengelola dan menjalankan organisasi P2K3 ( Panitia Pembinaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja ).
Jadi sobat kompetensi, sudah paham atau belum untuk membuat dan mendapatkan sertifikat Ahli K3 Umum BNSP ? jika masih bingung, silahkan kontak admin kami SLV Metropolitan Indonesia di (0254) 8481815 / (021) 73490829 / 08118381232 untuk mengetahui lebih detail lagi ya.
